
Upacara dan doa sebelum phinisi berlayar adalah warisan tradisi maritim Bugis-Makassar yang masih hidup di armada wisata: dari doa bersama kru sebelum angkat jangkar, syukuran kecil pada awal musim pelayaran, hingga rangkaian ritual besar dalam kehidupan sebuah kapal — peletakan lunas, annyorong lopi (mendorong kapal pertama kali ke laut), dan penamaan kapal. Bagi kru, ritual ini bukan formalitas, melainkan cara menghormati laut dan memohon keselamatan pelayaran.
- Doa bersama sebelum berlayar dipimpin kapten atau kru paling senior, berlangsung singkat dan khidmat.
- Annyorong lopi di Bulukumba adalah upacara terbesar: satu kampung bergotong royong mendorong kapal baru ke laut.
- Tamu tidak diwajibkan ikut — cukup diam sejenak dan menghormati saat ritual berlangsung.
Beberapa menit sebelum jangkar diangkat, geladak yang riuh mendadak hening. Kru berkumpul di haluan, kepala tertunduk, dan kapten memanjatkan doa dengan suara yang nyaris tertelan angin. Tiga puluh detik kemudian mesin menyala dan pelayaran dimulai — tetapi tiga puluh detik itu, bagi saya, adalah momen paling khusyuk di seluruh perjalanan. Saya, Sari Wulandari dari tim dokumentasi Phinisi Bali, menulis catatan ini agar tamu memahami apa yang sedang terjadi di detik-detik hening tersebut — dan mengapa itu penting.
Laut sebagai pihak yang dihormati
Dalam pandangan pelaut Bugis-Makassar, laut bukan sekadar medan kerja; ia pihak yang harus dihormati. Kapal yang akan berlayar sedang meminta izin lewat — dan doa adalah bahasa permintaan izin itu. Cara pandang ini membentuk seluruh rangkaian ritual phinisi: tidak ada tahap penting dalam hidup kapal yang dilewati tanpa doa, dari pohon pertama yang ditebang untuk lunasnya hingga pelayaran perdananya. Bagi kru, memulai pelayaran tanpa doa terasa seperti memasuki rumah orang tanpa mengetuk pintu — secara teknis bisa, secara adab tidak.
Ritual besar dalam hidup sebuah kapal
Tiga upacara menandai kelahiran phinisi di galangan Bulukumba. Pertama, peletakan lunas: balok pertama kapal dipasang pada hari yang dipilih punggawa, disertai doa dan kelengkapan adat — karena lunas adalah tulang punggung yang menentukan nasib kapal. Kedua, rangkaian syukuran selama pembangunan pada titik-titik penting konstruksi. Ketiga — yang paling termasyhur — annyorong lopi: upacara mendorong kapal jadi dari pantai ke laut untuk pertama kalinya. Ratusan warga kampung bergotong royong menarik dan mendorong badan kapal seberat puluhan ton dengan tenaga manusia, diiringi doa dan sorak — pemandangan yang menjelaskan mengapa satu phinisi selalu disebut milik satu kampung, bukan satu orang. Konteks budayanya kami ulas dalam budaya Bugis-Makassar di balik setiap phinisi.
Doa harian di armada wisata
Di kapal wisata yang beroperasi dari Benoa, ritual mengambil bentuk yang lebih sederhana namun tetap dijaga. Doa bersama sebelum angkat jangkar — dipimpin kapten atau kru paling senior — adalah yang paling umum, berlangsung satu-dua menit di haluan atau anjungan. Beberapa kapal mengadakan syukuran kecil di awal musim pelayaran: makan bersama kru, doa keselamatan untuk satu musim penuh. Ada pula kebiasaan-kebiasaan kecil yang diwariskan tanpa banyak penjelasan: cara memperlakukan haluan, pantangan bersiul memanggil angin, atau penghormatan pada nama kapal. Tidak semua kru menjalankan semuanya — armada modern diawaki orang dari berbagai latar — tetapi hampir semua sepakat pada satu hal: doa sebelum berlayar tidak pernah dilewatkan.
Perjumpaan dengan tradisi Bali
Beroperasi dari pelabuhan di pulau Hindu terbesar Indonesia, armada phinisi hidup berdampingan dengan tradisi Bali. Banyak kapal menghormati hari-hari besar setempat dalam penjadwalan; kru lokal Bali di beberapa kapal membawa kebiasaan sembahyangnya sendiri; dan pada momen tertentu Anda bisa melihat canang sari — persembahan khas Bali — diletakkan di dermaga tempat kapal sandar, berdampingan dengan doa kru Bugis di geladak. Dua tradisi maritim tua saling menghormati di pelabuhan yang sama: pemandangan yang diam-diam menjadi salah satu pelajaran toleransi terbaik yang bisa disaksikan di laut Indonesia.
Adab tamu saat ritual berlangsung
Anda tidak diwajibkan memahami, apalagi mengikuti ritual apa pun — tetapi adab sederhana sangat dihargai. Saat kru berkumpul untuk berdoa, hentikan aktivitas sejenak: turunkan suara, tunda musik, jangan melintasi lingkaran doa. Memotret dari jarak sopan umumnya diperbolehkan, tetapi bertanyalah dulu — sebagian kru merasa doa bukan objek wisata. Setelah selesai, jangan sungkan bertanya tentang makna ritualnya; hampir semua kru senang menjelaskan, dan pertanyaan Anda justru menjadi tanda hormat. Prinsip yang sama berlaku untuk kebiasaan tua lain di kapal: bila ragu, tanya; bila tidak sempat bertanya, ikuti saja yang dilakukan kru. Pengenalan istilah dan kebiasaan geladak lainnya bisa Anda baca di istilah pelayaran phinisi yang perlu Anda ketahui.
Menyaksikannya sendiri
Momen doa sebelum berlayar hanya bisa dialami dengan satu cara: ikut berlayar. Bila Anda ingin merasakannya — sekaligus seluruh pengalaman phinisi dari geladak kayu hingga makan malam matahari terbenam — tim kami siap mengatur pelayarannya melalui WhatsApp +62 811-3941-4563 atau surel [email protected]. Dan saat keheningan tiga puluh detik itu tiba di haluan, Anda akan tahu persis apa yang sedang terjadi.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu annyorong lopi?
Upacara adat Bulukumba mendorong kapal phinisi yang baru selesai dibangun dari pantai ke laut untuk pertama kalinya. Ratusan warga bergotong royong menarik kapal seberat puluhan ton dengan tenaga manusia, disertai doa dan syukuran satu kampung.
Apakah setiap phinisi wisata masih melakukan doa sebelum berlayar?
Hampir semua. Bentuknya bervariasi antarkapal — dari doa singkat kapten di anjungan hingga doa bersama seluruh kru di haluan — tetapi memulai pelayaran tanpa doa dianggap tidak pantas oleh mayoritas pelaut armada.
Bolehkah tamu ikut atau memotret saat ritual berlangsung?
Menghormati dari jarak sopan selalu boleh; ikut berdoa dipersilakan bila kru mengundang. Untuk memotret, mintalah izin terlebih dahulu — sebagian kru tidak keberatan, sebagian memilih momen doanya tidak difoto.
Apakah ritual phinisi berkaitan dengan agama tertentu?
Ia jalinan adat maritim Bugis-Makassar dengan praktik keagamaan para krunya. Di armada modern yang diawaki berbagai latar belakang, bentuk doa menyesuaikan — yang tetap sama adalah maknanya: memohon keselamatan dan menghormati laut.